Jakarta
masih harus menunggu hasil perhitungan suara dari Komisi Pemilihan Umum
(KPU) sebagai penetapan yang sah atas Gubernur dan Wakil Gubernur
terpilih periode 2012 - 2017. Perbedaan suara yang tidak terpaut jauh
antar kedua pasangan calon gubernur dan wakil menjadikan masing - masing
pendukung masih harus harap - harap cemas. Apalagi pasangan calon
gubernur yang untuk sementara berada pada posisi kedua sebagai hasil
penghitungan cepat yang diadakan beberapa media nasional.
Pemilihan
kepala daerah dengan sistem demokrasi diawali dengan serangkaian
tindakan komunikasi yang terencana dengan tujuan untuk menciptakan efek
langsung kepada sejumlah besar khalayak yang dilakukan secara
berkelanjutan pada kurun waktu tertentu atau yang biasa disebut dengan
Kampanye (Roger dan Storey, 1987).
Bentuk
kampanye politik kini kian beragam seiring dengan berkembangnya media
komunikasi. Lahir dan berkembangnya media baru, internet menjadikan
setiap orang dapat langsung menyuarakan pendapatnya dan orang lain yang
melihat juga dengan segera dapat menimpali dengan dukungan atau
penolakan. Itulah yang terjadi kini di seluruh belahan dunia, kampanye
politik berkembang menciptakan bentuk barunya yakni virtual.
Mahasiswa,
calon sarjana, diklaim lebih berpengetahuan sehingga menjadi target
empuk untuk menjalankan kampanye politik dalam media baru, internet.
Segala bentuk jejaring sosial sangat dekat dengan anak muda dan
mahasiswa termasuk di dalamnya. Tindakan segelintir mahasiswa untuk
memilih ikut bergabung dalam tim sukses salah satu pasangan calon
gubernur, dengan alasan apapun seharusnya tidak dapat diterima. Tidak
untuk alasan belajar berpolitik. Apalagi alasan suka dengan pasangan
calon gubernur terkait.
Belajar
bukan berarti ikut mengagung - agungkan salah satu pasangan calon
gubernur. Mahasiswa menerima terpaan kampanye adalah untuk menilai
secara kritis isi kampanye dan bagaimana proses kampanye itu
direncanakan, dilaksanakan dan diakhiri. Suara mahasiswa pun dapat
menjadi tolak ukur bagi masyarakat dalam memilih.
Karena
itu, seharusnya mahasiswa bukanlah individu - individu yang justru
terlibat dalam kampanye politik. Mahasiswa adalah calon - calon pemimpin
yang terdekat dengan masyarakat yang siap terjun langsung
memperjuangkan kepentingan rakyat, yang dengan sigap dapat menolak
kebijakan pemerintah atau kepentingan politik tertentu yang tidak sesuai
dengan kebutuhan masyarakat. Tindakan mendukung salah satu pasangan
calon gubernur membiaskan posisi mahasiswa yang bebas dari segala macam
bentuk kepentingan politik.
Seperti
halnya dua sisi mata uang. Tindakan tersebut tidak sepenuhnya ditolak
oleh mahasiswa yang lain. "Mahasiswa menjadi tim sukses merupakan hal
yang biasa, sah - sah saja karena itu adalah hak untuk berpolitik dan
menyatakan pendapat." ucap Sekretaris Jendral Serikat Mahasiswa
Universitas Paramadina (SEMA).
Mungkin
tidak semua mahasiswa tahu dan memahami posisi sebagai individu -
individu yang netral dari segala bentuk kepentingan. Pers Mahasiswa
Universitas Paramadina (PARMAGZ) MENOLAK segala bentuk dukungan terhadap
salah satu pasangan calon gubernur yang dilakukan oleh mahasiswa
khususnya Universitas Paramadina. Masih jadi mahasiswa aja kok udah gak
independen? Gimana mau jadi pemimpin untuk rakyat, kelak?
*Liputan Khusus di Buletin Pertama Parmagz ditulis tanggal 21 September 2012*
No comments:
Post a Comment