Tuesday, October 23, 2012

Lakon Maryam Menggugah Nilai dan Rasa Kemanusiaan

Setelah sukses melakukan peluncuran novelnya yang ketiga, Maryam di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki bulan lalu, Senin, 1 Mei 2012 Okky Madasari bekerjasama dengan Kafha, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Universitas Paramadina yang fokus pada persoalan kemanusiaan dan kebudayaan, berhasil mewujudkan novel Maryam ke dalam bentuk teater.

Teater kecil bertajuk Lakon Maryam ini diselenggarakan selama 2 hari berturut – turut di Auditorium Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina, 1 dan 2 Mei 2012 pukul 07.30 – 10.00 malam. Lakon Maryam adalah satu dari serangkaian acara memperingati hari jadi Kafha yang ke-7.

Mendekati pukul 7 malam, suasana di luar auditorium yang semula hening menjadi riuh dengan gerombolan penonton. Sebagian besar menunggu sambil melihat – lihat sekeliling selasar budaya, mengambil gambar, dan tidak sedikit yang mengantri untuk membeli tiket on the spot. Tiket dijual dengan harga Rp. 15.000 untuk mahasiswa dan Rp. 30.000 untuk umum. Di hari perdana pagelarannya, Lakon Maryam disaksikan oleh lebih dari 100 orang penonton.

Lakon Maryam dalam pagelarannya mendapat dukungan penuh dari Universitas Paramadina, turut hadir dalam pegelaran Anies Baswedan, Rektor Universitas Paramadina, Totok Amin Soefijanto, Deputy Rektor Bid. Akademik, Riset dan Kemahasiswaan dan beberapa orang dosen.

Pagelaran 
Dalam kata sambutannya membuka Lakon Maryam, Anies mengingatkan para hadirin akan keberagaman bangsa Indonesia, mengajak untuk tidak menilai individu berdasarkan sub budaya atau agamanya tetapi saudara sebangsa, setanah air.

Auditorium Nurcholish Madjid berhasil disulap menjadi ruang pertunjukan teater yang menarik. Terdapat rumah – rumah rekaan, tempat tinggal keluarga Maryam hasil tangan – tangan kreatif anggota teater Kafha, menyerupai rumah – rumah yang ada di Gerupuk dan pengungsian di Transito, seperti yang terlihat pada foto – foto hasil jepretan Okky Madasari yang dipajang di luar auditorium.

Kafha menawarkan atmosfer yang berbeda dalam menikmati sebuah pagelaran teater. Tempat duduk diatur dalam lesehan, hanya sebagian kecil yang duduk  di kursi, di bagian belakang ruangan untuk para tamu VIP seperti Rektorat kampus, perwakilan Serikat, Himpunan dan Unit Kegiatan Mahasiswa, juga untuk tamu seperti dosen dan orang tua. Penonton diajak menikmati Lakon Maryam dengan suasana yang teduh, tenang dan santai.

Lakon Maryam dimulai dengan kisah cinta Maryam dengan Gamal, lelaki yang seiman dengannya, Ahmadiyah. Kisah cinta miris yang berujung pada perpisahan yang tak terduga. Gamal mengingkari keyakinannya pergi meninggalkan keluarganya dan Maryam.

Penonton turut hanyut dalam kebahagiaan Maryam ketika masih bersama Gamal. Penonton ikut bersedih ketika melihat ketidakberdayaan orang tua Gamal dan patah hati Maryam. Bahkan ada penonton yang berlinang air mata menyaksikan kekecewaan terbesar orang tua Gamal. Baru 15 menit berlangsung, Lakon Maryam sudah berhasil membius setiap orang yang berada di dalam ruang auditorium.

Novel dan Lakon Maryam tidak sekedar mengisahkan kehidupan dan percintaan Maryam sebagai seorang Ahmadiyah. Maryam dan keluarganya diangkat menjadi sosok - sosok yang mewakili kaum minoritas di negeri ini, yang sering terabaikan keberadaannya, yang tidak menyerah pada keadaan dan yang tidak pernah lelah memperjuangkan hak – haknya.

Orang tua Maryam yang terpaksa meminta anaknya hanya berteman dekat dengan orang – orang yang juga Ahmadi, menyiratkan kekhawatiran mendalam tentang masa depan dan kebahagiaan Maryam. Kekhawatiran yang akhirnya menimbulkan konflik antara Maryam dan orang tuanya yang juga menjadi awal perselisihan Maryam dan Alam, suaminya saat itu.

Perceraian Maryam dengan Alam. Kehidupan baru Maryam bersama Umar. Sampai pada insiden pengusiran keluarga Maryam bersama orang – orang Ahmadi di Desa Gegerung menjadi akhir pementasan teater yang sangat menyentuh. Para pelakon dalam teater Maryam berhasil membawakan setiap perasaan dari tokoh yang mereka perankan ke dalam visualisasi gerak dan mimik wajah dengan sangat apik. Intonasi suara dan musik yang pas. Sorotan lampu yang tepat menguatkan rasa pada setiap dialog yang mereka sampaikan. Penonton dibawa semakin larut dalam keadaan, seolah – olah sedang menyaksikan kehidupan Maryam yang sebenarnya, di depan mata.

Lantunan lirik lagu Cinta - Iwan Fals mengiringi setiap jeritan hati Maryam, dinyanyikan oleh seluruh pemeran teater. Lakon Maryam menuju klimaks pertunjukannya, mentransfer seluruh perasaan kecewa, sedih, dan marah orang – orang Ahmadi yang terusir karena iman mereka. Penonton terpaku melihat gambaran penderitaan dan duka yang dialami kaum minoritas tersebut. Sebuah penutup yang mencengangkan. Tepukan gemuruh menutup pagelaran Lakon Maryam.

“Karya mereka bagus banget. Saya sangat menikmatinya. Ketika novel ini hadir dalam bentuk teater, semoga lebih banyak orang yang tergerak hatinya pada nilai – nilai kemanusiaan, lebih bertoleransi pada mereka yang berbeda.” ucap Okky Madasari yang juga duduk di antara para penonton menikmati pagelaran Lakon Maryam.

Orang bicara cinta, atas nama Tuhannya. Sambil menyiksa, membunuh berdasarkan keyakinan mereka. Semoga tidak ada orang yang benar – benar bertindak seperti lirik pada lagu berjudul Cinta tersebut. Semoga tidak lagi ada korban seperti rekaan tokoh yang diangkat oleh novel Maryam. Semoga masih ada harapan.


*muncul di www.kampusparmad.com sejak tanggal 3 Mei 2012 juga diterbitkan di Kompas Kampus tanggal 15 Mei 2012*

No comments:

Post a Comment