Setelah
sukses melakukan peluncuran novelnya yang ketiga, Maryam di Galeri
Cipta III, Taman Ismail Marzuki bulan lalu, Senin, 1 Mei 2012 Okky
Madasari bekerjasama dengan Kafha, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM)
Universitas Paramadina yang fokus pada persoalan kemanusiaan dan
kebudayaan, berhasil mewujudkan novel Maryam ke dalam bentuk teater.
Teater
kecil bertajuk Lakon Maryam ini diselenggarakan selama 2 hari berturut –
turut di Auditorium Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina, 1 dan 2
Mei 2012 pukul 07.30 – 10.00 malam. Lakon Maryam adalah satu dari
serangkaian acara memperingati hari jadi Kafha yang ke-7.
Mendekati
pukul 7 malam, suasana di luar auditorium yang semula hening menjadi
riuh dengan gerombolan penonton. Sebagian besar menunggu sambil melihat –
lihat sekeliling selasar budaya, mengambil gambar, dan tidak sedikit
yang mengantri untuk membeli tiket on the spot. Tiket dijual
dengan harga Rp. 15.000 untuk mahasiswa dan Rp. 30.000 untuk umum. Di
hari perdana pagelarannya, Lakon Maryam disaksikan oleh lebih dari 100
orang penonton.
Lakon
Maryam dalam pagelarannya mendapat dukungan penuh dari Universitas
Paramadina, turut hadir dalam pegelaran Anies Baswedan, Rektor
Universitas Paramadina, Totok Amin Soefijanto, Deputy Rektor Bid.
Akademik, Riset dan Kemahasiswaan dan beberapa orang dosen.
Pagelaran
Dalam kata sambutannya membuka Lakon Maryam, Anies mengingatkan para hadirin akan
keberagaman bangsa Indonesia, mengajak untuk tidak menilai individu
berdasarkan sub budaya atau agamanya tetapi saudara sebangsa, setanah
air.
Auditorium Nurcholish Madjid berhasil disulap menjadi ruang pertunjukan teater yang menarik.
Terdapat rumah – rumah rekaan, tempat tinggal keluarga Maryam hasil
tangan – tangan kreatif anggota teater Kafha, menyerupai rumah – rumah
yang ada di Gerupuk dan pengungsian di Transito, seperti yang terlihat
pada foto – foto hasil jepretan Okky Madasari yang dipajang di luar auditorium.
Kafha
menawarkan atmosfer yang berbeda dalam menikmati sebuah pagelaran
teater. Tempat duduk diatur dalam lesehan, hanya sebagian kecil yang
duduk di kursi, di bagian belakang ruangan untuk para tamu VIP seperti
Rektorat kampus, perwakilan Serikat, Himpunan dan Unit Kegiatan
Mahasiswa, juga untuk tamu seperti dosen dan orang tua. Penonton diajak
menikmati Lakon Maryam dengan suasana yang teduh, tenang dan santai.
Lakon
Maryam dimulai dengan kisah cinta Maryam dengan Gamal, lelaki yang
seiman dengannya, Ahmadiyah. Kisah cinta miris yang berujung pada
perpisahan yang tak terduga. Gamal mengingkari keyakinannya pergi
meninggalkan keluarganya dan Maryam.
Penonton
turut hanyut dalam kebahagiaan Maryam ketika masih bersama Gamal.
Penonton ikut bersedih ketika melihat ketidakberdayaan orang tua Gamal
dan patah hati Maryam. Bahkan ada penonton yang berlinang air mata
menyaksikan kekecewaan terbesar orang tua Gamal. Baru 15 menit
berlangsung, Lakon Maryam sudah berhasil membius setiap orang yang
berada di dalam ruang auditorium.
Novel
dan Lakon Maryam tidak sekedar mengisahkan kehidupan dan percintaan
Maryam sebagai seorang Ahmadiyah. Maryam dan keluarganya diangkat
menjadi sosok - sosok yang mewakili kaum minoritas di negeri ini, yang
sering terabaikan keberadaannya, yang tidak menyerah pada keadaan dan
yang tidak pernah lelah memperjuangkan hak – haknya.
Orang
tua Maryam yang terpaksa meminta anaknya hanya berteman dekat dengan
orang – orang yang juga Ahmadi, menyiratkan kekhawatiran mendalam
tentang masa depan dan kebahagiaan Maryam. Kekhawatiran yang akhirnya
menimbulkan konflik antara Maryam dan orang tuanya yang juga menjadi
awal perselisihan Maryam dan Alam, suaminya saat itu.
Perceraian
Maryam dengan Alam. Kehidupan baru Maryam bersama Umar. Sampai pada
insiden pengusiran keluarga Maryam bersama orang – orang Ahmadi di Desa
Gegerung menjadi akhir pementasan teater yang sangat menyentuh. Para
pelakon dalam teater Maryam berhasil membawakan setiap perasaan dari
tokoh yang mereka perankan ke dalam visualisasi gerak dan mimik wajah
dengan sangat apik. Intonasi suara dan musik yang pas. Sorotan lampu
yang tepat menguatkan rasa pada setiap dialog yang mereka sampaikan.
Penonton dibawa semakin larut dalam keadaan, seolah – olah sedang
menyaksikan kehidupan Maryam yang sebenarnya, di depan mata.
Lantunan
lirik lagu Cinta - Iwan Fals mengiringi setiap jeritan hati Maryam,
dinyanyikan oleh seluruh pemeran teater. Lakon Maryam menuju klimaks
pertunjukannya, mentransfer seluruh perasaan kecewa, sedih, dan marah
orang – orang Ahmadi yang terusir karena iman mereka. Penonton terpaku
melihat gambaran penderitaan dan duka yang dialami kaum minoritas
tersebut. Sebuah penutup yang mencengangkan. Tepukan gemuruh menutup
pagelaran Lakon Maryam.
“Karya
mereka bagus banget. Saya sangat menikmatinya. Ketika novel ini hadir
dalam bentuk teater, semoga lebih banyak orang yang tergerak hatinya
pada nilai – nilai kemanusiaan, lebih bertoleransi pada mereka yang
berbeda.” ucap Okky Madasari yang juga duduk di antara para penonton
menikmati pagelaran Lakon Maryam.
Orang bicara cinta, atas nama Tuhannya. Sambil menyiksa, membunuh berdasarkan keyakinan mereka. Semoga
tidak ada orang yang benar – benar bertindak seperti lirik pada lagu
berjudul Cinta tersebut. Semoga tidak lagi ada korban seperti rekaan
tokoh yang diangkat oleh novel Maryam. Semoga masih ada harapan.
*muncul di www.kampusparmad.com sejak tanggal 3 Mei 2012 juga diterbitkan di Kompas Kampus tanggal 15 Mei 2012*

No comments:
Post a Comment