Sudah hampir 5 bulan saya
dan 46 mahasiswa baru Universitas Paramadina yang lain hijrah ke Jakarta. Kami
adalah para pelajar yang sangat beruntung karena terpilih menjadi penerima Paramadina
Fellowship (PF), salah satu program beasiswa Universitas Paramadina, tahun 2010.
*Ditulis tanggal 16 Februari 2011. Di-publish pertama kali di blog tanggal 31 Maret 2011. Di-edit tuk layak melengkapi bahan Ujian Tengah Semester (UTS) Mata Kuliah Relasi Media tanggal 15 Oktober 2012.
Di 3 bulan pertama,
mahasiswi penerima PF yang berjumlah 24 orang tinggal di asrama yang sama. Hidup
bersama di lingkungan yang benar – benar masih sangat baru, bahkan diantara
kami saja masih berasa asing satu sama lain. Asrama masih kosong dan belum
kondusif untuk dihuni. Tak ada minuman atau makanan apapun untuk dilahap, untuk
memasak pun belum tersedia peralatan. Setiap harinya dapat dipastikan kami membeli
makanan ataupun sekedar air mineral.
Bayangkan saja, jika seorang penghuni asrama
membeli minuman botol atau kaleng minimal 2 kali dalam sehari, sudah berapa
banyak sampah kaleng atau botol plastik yang ada di asrama?
Pada akhirnya, sampah berupa botol plastik dan
kaleng minuman ditemukan di hampir setiap sudut ruang asrama. Botol plastik dan
kaleng hanya akan menghilang ketika siang menjelang, saat penghuni asrama yang
bertugas telah membuangnya ke tempat sampah.
Segala bentuk sampah dibuang ke tempat yang
sama setiap hari, baik itu sampah dalam bentuk sisa makanan, plastik, kaleng maupun
kertas. Kebiasaan buruk yang sudah menjadi pemandangan sangat biasa waktu itu.
Sampai akhirnya di suatu pagi, saya dan
seorang teman sedang membersihkan asrama dan melihat seorang petugas pengangkut
sampah sibuk memilah – milah sampah yang ada di wadah besar berbentuk tabung
berwarna hijau yang berada di sudut kiri teras asrama. Sesekali pria paruh baya
itu mengerutkan dahi dan hidungnya. Memang ketika tutup tong sampah dibuka, bau
tidak sedap langsung memenuhi teras asrama.
Pemandangan di pagi itu menimbulkan niat untuk
memisahkan sampah plastik, kaleng dan kertas dari sampah sisa makanan yang ada
di asrama. Dengan mengajak teman – teman yang lain juga untuk tidak membuang
sampah botol plastik mereka ke tong sampah yang ada di luar rumah, tetapi
dikumpul bersama dengan botol – botol plastik yang telah lebih dulu saya kumpulkan.
Saya sempat bingung dan tidak tahu harus
mengumpulkan semua botol plastik itu di mana, sampai lemari saya dipenuhi
dengan tumpukan botol – botol plastik. Saya pun sering jadi bahan ledekan teman
– teman asrama karena hal itu. Setiap hari saya mengutip sampah botol plastik
mereka yang berserakan dan terus mengingatkan mereka sampai mereka terkesan
bosan.
Botol – botol plastik itu dikumpulkan untuk dijual ke pembeli barang bekas yang biasa lewat di depan asrama. Usaha tersebut terus dijalankan sampai akhirnya seluruh penghuni asrama tidak lagi perlu diingatkan untuk mengumpulkan sendiri sampah plastik di tempatnya.
Botol – botol plastik itu dikumpulkan untuk dijual ke pembeli barang bekas yang biasa lewat di depan asrama. Usaha tersebut terus dijalankan sampai akhirnya seluruh penghuni asrama tidak lagi perlu diingatkan untuk mengumpulkan sendiri sampah plastik di tempatnya.
Sekarang sudah tersedia tempat sampah khusus botol
– botol plastik di dapur. Selain memudahkan pekerjaan para petugas pengangkut sampah,
kesehatan mereka pun lebih terjaga bau tak sedap yang biasa ditimbulkan oleh
sampah organik yang belum terurai tidak lagi menggangu pernafasan mereka.
Sekarang, semua sampah plastik dipisah dari sampah organik, dan sampah organik
yang berupa sisa makanan tidak lagi dibuang ke tempat sampah tetapi digunakan
untuk makanan kucing liar yang ada di asrama.
Riwayat botol – botol plastik yang ada di
asrama tidak hanya sampai di kalimat terakhir paragraf di atas. Oktober tahun
lalu, pada saat setiap orang menaruh simpati dan sibuk menyalurkan bantuan bagi
korban bencana alam meletusnya gunung Merapi di Yogyakarta. Mahasiswa
Universitas Paramadina juga tak kalah sibuk, salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa
(UKM) di kampus, KafHa Paramadina, UKM yang bergerak di bidang budaya dan
kemanusiaan, mengadakan penggalangan dana bagi saudara – saudara kita yang
menjadi korban di Yogyakarta.
KafHa sadar, mahasiswa Paramadina sangat
konsumtif terhadap minuman botol dan kaleng, dengan mengadakan pengumpulan dana
melalui penjualan botol – botol bekas minuman tersebut, KafHa juga telah
mengurangi existensi sampah plastik yang ada di kampus. Kegiatan ini juga
mensosialisasikan niat KafHa untuk membantu korban bencana alam tersebut dengan
partisipasi oleh setiap penghuni Universitas Paramadina.
Saya dan beberapa orang teman yang juga
tinggal di asrama adalah anggota dari UKM KafHa. Botol – botol bekas yang sudah
terkumpul di asrama selama kurang lebih 1 bulan saat itu pun tidak dijual
seperti biasanya. Tetapi turut disumbangkan kepada KafHa untuk dijual bersama
botol – botol bekas yang lain. Senang rasanya dapat membantu orang lain
meskipun hanya dengan hal kecil seperti mengumpulkan botol – botol plastik. J
No comments:
Post a Comment